➽ [Download] ✤ The Religion of Java By Clifford Geertz ➲ – Saudionline.co.uk

The Religion of Java files The Religion of Java, read online The Religion of Java, free The Religion of Java, free The Religion of Java, The Religion of Java 703de4a1a Written With A Rare Combination Of Analysis And Speculation, This Comprehensive Study Of Javanese Religion Is One Of The Few Books On The Religion Of A Non Western People Which Emphasizes Variation And Conflict In Belief As Well As Similarity And Harmony The Reader Becomes Aware Of The Intricacy And Depth Of Javanese Spiritual Life And The Problems Of Political And Social Integration Reflected In The Religion The Religion Of Java Will Interest Specialists In Southeast Asia, Anthropologists And Sociologists Concerned With The Social Analysis Of Religious Belief And Ideology, Students Of Comparative Religion, And Civil Servants Dealing With Governmental Policy Toward Indonesia And Southeast Asia


10 thoughts on “The Religion of Java

  1. says:

    MOJOKUTOCERITA kali ini dari catatan harian seseorang di suatu kota kecil di Jawa Siapa saja, katanya, akan mudah mengenal tipikal kota kecil itu pohon beringin, dengan patung Hindu di bawah naungannya, tumbuh di tengah alun alun sekelompok kantor pemerintahan di sekitar rumah wedana dengan pendapa dan halamannya yang luas sederetan gudang gudang dan toko toko Cina yang terbuka bagian depannya dan berkain tenda pasar terbuka yang luas dengan bangsal bangsal seng yang karatan dan kedai kedai kayu.Lebih dari 50 tahun yang lalu catatan harian itu dianalisis, dan dibukukan Mungkin kita bisa menyebut catatan ini sebagai catatan tentang konflik, antara santri, abangan, dan priyayi di dalamnya ada percekcokan, ketegangan, pertentangan dalam suatu kehidupan sosial.Abangan kalau kita tidak punya apa pun buat makan, kalau kita mencuri dan melakukan kejahatan, kalau kita terganggu perasaan, maka kita ada dalam neraka saat ini kaum santri memeluk agama Arab tapi kami tidak setuju dengan itu Yang penting bukanlah mengaji dan sebangsanya, tetapi berlaku baik, tidak mencuri, dan sebagainya Priyayi mereka pergi bersembahyang di Tanah Suci, lalu pulang lagi ke sini, dan sangat dihormati Tetapi nyatanya mereka tidak melakukan sesuatu yang pantas dihormati, karena tempat suci yang sebenarnya adalah di dalam batin Saya naik haji ke situ Tak ada perlunya kita naik haji ke kota Mekah kalau kita bisa menemani Tuhan di dalam batin sendiri Dalam The Religion of Java itu, permusuhan abangan dan priyayi yang keras ditujukan ke arah moralisme santri lebih suci daripadamu Tapi kaum santri pun tak kalah keras mereka menuduh kaum abangan sebagai penyembah berhala dan priyayi yang takabur dengan tak bisa membedakan dirinya dengan Tuhan.Antagonisme seperti itu, seperti telah di introduksi sang penulis dengan mengutip Schrieke dalam Indonesian Sociological Studies The Hague and Bandung, 1955 , telah ada sejak masa pertikaian antara kerajaan Mataram di Jawa Tengah dan kerajaan kerajaan pantai utara, paling tidak sejak abad keenam belas dan ketujuh belas Priyayi dan santri tak sepakat dalam banyak hal dan petani memendam benci terhadap aristokrat yang eksploitatif serta kaum pedagang santri.Seseorang itu, Clifford Geertz, yang meneliti Mojokuto sebagai nama samara kota Pare di Jawa Timur toh menemukan hal hal yang mampu meredakan konflik Keseluruhan cerita dalam bukunya tak hanya tentang kekuatan yang memecah yang bisa menjadikan perang semua melawan semua Di antara yang meredakan konflik adalah suatu rasa satu budaya baik dalam kosakata agama tradisional atau nasionalisme modern , toleransi yang berdasar relativisme kontekstual , pertumbuhan mekanisme sosial bagi bentuk integrasi sosial nonsinkretik yang pluralistic, serta tipe campuran sebagai mediator.Mengenai campuran ini Dr Geertz melihat seorang santri yang berkedudukan tinggi seringkali lebih mirip dengan seorang priyayi daripada seorang santri yang rendah kedudukannya Seorang abangan yang, kalau kiita baurkan kemungkinan, berhasil di bidang usaha, sangat mungkin memandang segala sesuatu menurut cara santri sampai suatu tingkat tertentu, meskipun mereka tidak sembahyang Dan bagi seorang santri, sebagaimana halnya semua orang Jawa, tetangga adalah tetangga, walaupun ia membakar kemenyan untuk para dewa.Pada akhirnya istilah istilah santri, abangan, priyayi, bukan kategori kategori absolut , meskipun Dr Geertz sendiri memberi kesan kategori kategori yang tegas dalam memberi judul tiap tiap istilah tersebut dan membahasnya secara keseluruhan dalam konflik maupun integrasinya.Hal lain adalah bahwa tidak berarti bahwa ketiga golongan itu merupakan kategori kategori dari satu tipe klasifikasi antara abangan dan santri lebih kepada perilaku keagamaan, dan priyayi adalah suatu kelas sosial tertentu seorang priyayi, maka dari itu, adalah seorang santri bila taat agama, dan abangan bila sebaliknya.Tentu masa kini telah berbeda dengan 50 tahun yang lalu Kini seorang anak petani, yang lekat dengan abangan ala Geertz, yang pintar, dapat saja kemudian menjadi seorang pejabat tinggi BUMN atau menteri, seorang priyayi, bahkan santri yang taat agama sekaligus Kita membaca tetralogi Laskar Pelangi dan takjub bahwa seorang anak pendulang timah miskin yang tak bisa aksara mampu menamatkan studi sampai ke Paris Variasi kebudayaan berkembang dan berganti dengan cepat.Masa depan makin tak bisa ditebak Tapi dari yang tak bisa ditebak itu orang orang juga percaya bahwa tak ada hal sekecil apa pun terjadi secara kebetulan Dan hidup dan nasib, kata seorang ilmuwan, kadang tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis Yeah.


  2. says:

    A wide ranging look at the fascinatingly diverse syncretic melange of religion in Java Inevitably the most interesting part to me was at the beginning, about the folk religion Geertz calls the abangan strain Later chapters on the santri, self consciously Muslim, strain which is as much about political party organization as religious practice and prijaji, aristocratic mystic tradition which gets into linguistic levels of politeness, interestingly similar to Japanese which I speak somewhat, and is rather vague about the actual mysticism are also interesting but less immediately so Plenty to ponder Now I want one about Bali, which maybe will have less of the strangeness of culture heroes who brought Islam as well as the wayang and batik dyeing to Java, but perhaps therefore of the so called folk religion which I find so satisfying and interesting.


  3. says:

    santri, abangan, dan priyati, adalah tipologi yang dikenalkanoleh geertz tentang bagaimana perkembangan masyarakat islam di jawa konsepnnya ini bukan lah satu stratifikasi, melainkan diferensiasi, artinya bahwa itu merupakan satu hal yang bukan dilakukan untuk memasukkan manusia ke dalam klas dan memiliki status yang vertikal, melainkan lebih cenderung ke arah horisontal akan teapi perlu dipahami bahwa tipologi tersebut tidaklah bersifat ajeg kepada satu orang, buktinya ada semacam pergeseran pandangan dan mind set tentang sebagian ornag, ketika ia muda menjadi abangan atau priyayai,teetapiketika tua menjadi santri tapi yang jelas buku ini sungguh menambah khazanah pemikiran saya sebagai pendidik dan pegnamat masalah sosial dan budayathanks geerz


  4. says:

    First book I read on Indonesia as an undergraduate studentgot me hooked


  5. says:

    This book is based on Clifford Geertz b1926 PhD Thesis, written between 1951 1952 and submitted in 1956 I certainly admire his effort to document the Javanese culture and provide as most important sources into the understanding of Javanese.However as this is a scientific document, we also need to see the methodology that he used in his study As a trained anthropologist he used the Thematic Apperception Test TAT , the best he can do to obtain understanding His theory is that culture is complicated as so many symbols that used So this should not be seen as right or wrong but as the beginning of in depth research in Indonesian culture.The most important lesson that I learn from this book is I think is written in the last part of this book where he mentions about conflict and integration, especially in term of changes The abangan, santri and priyayi most likely will no longer operate with traditional effectiveness and forced contact between the two world views occur This book consists of three parts 1 Abangan 2 Santri and 3 Priyayi Part 1 is very detail, describing the javanese culture, as Indonesian, I learned about javanese culture from this book, if the purpose of science is to preserve humanity then Geertz already make big achievement here Part 2 is complicated as it tries to contrast between traditional NU and modernist Muhammadiyah Part 3 is clearer as it try to contrast an art aspect from traditional abangan and educated priyayi.


  6. says:

    Penelitian Geertz dimulai sekitar tahun 1950 Lalu, diterbitkan menjadi buku pada tahun 1985 Konon, karya ini menjadi populer pada waktu itu Buku yang tebalnya bisa menggantikan bantal ini memang memberi kontribusi yang perlu Namun, lebih perlu lagi dilakukan penelitian yang serupa pada zaman ini Orang orang berubah, demikian budaya.


  7. says:

    Contextual


  8. says:

    I appreciate the tremendous wok that has crept into the writing of this book I especially enjoyed the many notes or quotes from the conversations Geertz has with his informants On the whole I am not convinced by Geertz s analysis He offers no proof whatsoever that there is an Abangan and Priyayi religion Besides his annoying habit of using concepts such as religion, tradition, mysticism, ideology, syncretism, tolerance, in a fuzzy and sometimes interchangeable manner there is a complete lack of theory to support his contention that there is Javanese i.e Abangan or Priyayi religion.


  9. says:

    Meski banyak orang mengatakan, buku ini merupakan hasil studi intuisionisme gertz, di mana riset yang dia lakukan, sekedar menjadi penguat emirisme ilmiahnya, namun buku ini mampu memberikan gambaran awal tentang jawa, yang feodal dan sedikit abangan, dengan polesan santri di beberapa sisinya Buku ini memang penuh dengan nuansa orientalis, yang memposisikannya menjadi sedikit tidak objektif, sejajar dengan karya Snouck Hourgronje tentang Aceh, buku ini tentunya disusun dalam rangka kepentingan kolonialisme Namun demikian, kita patut berterimaksih dengan almarhum Gertz, seorang indonesianis kenamaan, yang telah memperkenalkan study jawa ke dunia luas.


  10. says:

    Sangat membantu saya dalam menyelesaikan skripsi Secara detail Geertz menulis gambaran masyarakat Jawa dengan setting pedesaan era 1950 an Satu hal yang paling saya ingat dalam buku ini adalah tentang prosesi perkawinan antara laki laki dan perempuan yang belum haid, di mana si pengantin perempuan harus dipangku oleh si calon suami Sepertinya poin yang diceritakan Geertz tersebut sudah benar benar tidak ada lagi pada masa sekarang.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *